JUDUL :
HUJAN SEHARIAN
KARYA :
SRI INDRATI
MENGUBAH PUISI YANG BERJUDUL HUJAN SEHARIAN MENJADI
SEBUAH CERITA
Pada
musim hujan begini aku paling senang, karena bisa bermain hujan sepuasku. Bapak
dan ibu tidak pernah tahu kalau aku senang bermain hujan. Bapak dan Ibu jarang
di rumah karena sibuk
bekerja. Hari ini sejak pagi, siang aku pulang sekolah hujan deras terus menerus. Baju seragamku basah kuyup, kujemur seharianpun hingga pagi belum kering.
bekerja. Hari ini sejak pagi, siang aku pulang sekolah hujan deras terus menerus. Baju seragamku basah kuyup, kujemur seharianpun hingga pagi belum kering.
Sejak
dulu aku tidak punya baju banyak, baju seragamku hanya satu. Setelah dicuci,
kering, dipakai lagi. Hal itu tidak menjadi masalah bagiku, yang penting aku
tetap bersemangat ke sekolah, walau baju seragamku hanya satu.
Aku
sangat sering kehujanan. Apalagi musim hujan begini. Pagi berangkat sekolah
kehujanan, pulang juga kehujanan. Aku tidal memiliki payung. Pergi ke sekolah
aku hanya berjalan kaki. Tentu saja sering kehujanan. Tetapi aku merasa heran,
karena aku tidak pernah sakit karena kehujanan. Bahkan aku merasakan sendiri,
air hujan terasa segar mengguyur tubuhku. Tubuhku memang sudah kebal dengan air
hujan.
Aku
memang anak orang yang tidak mampu. Bapakku tukang becak, dan ibuku penjual
gorengan keliling. Rumahku bukanlah rumah sendiri. Bapakku mengontrak hanya
satu kamar untuk kami sekeluarga. Semua sesrba terbatas, tidur, makan,
melakukan apa saja dalam satu kamar. Atap kamar sebagian bocor kalau kehujanan.
Tidurpun aku sering kehujanan.
Air
hujan bagiku adalah anugerah dari Tuhan, yang patut aku syukuri. Aku merasakan
air hujan benar-benar segar menyiram tubuhku.
No comments:
Post a Comment